Tour P. Karimun Jawa - Semarang








Tour Pulau KARIMUN JAWA - SEMARANG
(Bulan November 2010/min. 12 orang)

Biaya Rp. 1.550.000/person - by bus from Jakarta


Tempat :
  • Pulau Cemara Besar & Kecil
  • Pulau Menjangan Besar & Kecil
  • Pasar Tradisional Pulau Karimun Jawa
  • Penangkaran Hiu
  • Simpang Lima - Semarang
  • Vihara Sam Po Kong
  • Pagoda Avalokitevara
  • Pandanaran - Semarang


Aktivitas : Snorkeling, Photography, Shopping.

Hari I : (Dinner & Snack)
Pkl. 19.00 WIB, berangkat dari meeting point Jakarta menuju Semarang by bus. Peserta akan tidur di bus...
 
Hari II : (Breakfast, Lunch, Dinner & Snack)
Pagi hari tiba di Semarang, setelah breakfast & bersih-bersih di restoran, kita akan menuju pelabuhan Tanjung Emas, untuk naik kapal KMC Kartini menuju P. Karimun Jawa (perjalanan sekitar 3 jam). Setiba di P. Karimun Jawa, langsung menuju penginapan untuk istirahat sejenak dan makan siang. Setelah makan siang, kita akan snorkeling di Pulau MENJANGAN BESAR & KECIL. Kembali ke penginapan, dinner dan acara bebas.

Hari III : (Breakfast, Lunch, Dinner & Snack)
Pukul 05.00 WIB, kita akan melihat SUNRISE & mengunjungi Pasar Tradisional untuk melihat kehidupan masyarakat P. Karimun Jawa dan berbelanja. Setelah breakfast kita akan kembali snorkeling ke P. CEMARA BESAR & KECIL. Pukul 12.00 kembali ke penginapan dan bersiap-siap kembali ke Semarang. Tiba di Semarang, kita akan mengunjungi VIHARA SAM PO KONG & PAGODA AVALOKITEVARA, kemudian check-in ke hotel (istirahat & acara bebas).
 
Hari IV : (Breakfast, Lunch & Snack)
Pagi hari setelah breakfast, kita akan mengunjungi Jalan PANDARAN untuk berbelanja oleh-oleh khas Semarang, lalu kembali ke Jakarta.

Included :
  • Transportasi Bus AC (Jakarta - Semarang)
  • Transportasi KMC Kartini
  • Hotel di P. Karimun Jawa & Semarang
  • 9 kali meal & snack
  • Tiket masuk tempat wisata
  • Alat snorkeling
  • Foto sepanjang perjalanan dalam bentuk CD


Excluded :
  • Tips untuk supir
  • Pengeluaran Belanja Pribadi


Contact Person : 
Lidya - (021) 68999309
Ricky - 081916171021



Read more

The Charm of Pulau Belitung











Belitung, atau Belitong (bahasa setempat, diambil dari nama sejenis siput laut), dulunya dikenal sebagai Billiton adalah sebuah pulau di lepas pantai timur Sumatra, Indonesia, diapit oleh Selat Gaspar dan Selat Karimata. Pulau ini terkenal dengan lada putih (Piper sp.) yang dalam bahasa setempat disebut sahang, dan bahan tambang tipe galian-C seperti timah putih (Stannuum), pasir kuarsa, tanah liat putih (kaolin), dan granit. Serta akhir-akhir ini menjadi tujuan wisata alam alternatif. Pulau ini dahulu dimiliki Britania Raya (1812), sebelum akhirnya ditukar kepada Belanda, bersama-sama Bengkulu, dengan Singapura dan New Amsterdam (sekarang bagian kota New York). Kota utamanya adalah Tanjung Pandan.
Pulau Belitung terbagi menjadi 2 kabupaten yaitu Kabupaten Belitung, beribukota di Tanjung Pandan, dan Belitung Timur, beribukota Manggar.
Sebagaian besar penduduknya, terutama yang tinggal di kawasan pesisir pantai, sangat akrab dengan kehidupan bahari yang kaya dengan hasil ikan laut. Berbagai olahan makanan yang berbahan ikan menjadi makanan sehari-hari penduduknya. Kekayaan laut menjadi salah satu sumber mata pencaharian penduduk Belitung. Sumber daya alam yang tak kalah penting bagi kehidupan masyarakat Belitung adalah timah. Usaha pertambangan timah sudah dimulai sejak zaman Hindia Belanda.
Penduduk Pulau Belitung terutama adalah suku Melayu (bertutur dengan dialek Belitung) dan keturunan Tionghoa Hokkien dan Hakka.
Secara geografis pulau Belitung (Melayu ; Belitong) terletak pada 107°31,5' - 108°18' Bujur Timur dan 2°31,5'-3°6,5' Lintang Selatan. Secara keseluruhan luas pulau Belitung mencapai 4.800 km² atau 480.010 ha.Pulau Belitung disebelah utara dibatasi oleh Laut Cina Selatan, sebelah timur berbatasan dengan selat Karimata, sebelah selatan berbatasan dengan Laut Jawa dan sebelah barat berbatasan dengan selat Gaspar. Di sekitar pulau ini terdapat pulau-pulau kecil seperti pulau Mendanau, Kalimambang, Gresik, Seliu dan lain-lain.
Sumber : Wikipedia Bahasa Indonesia
Read more

The Charm of Dataran Tinggi Dieng




Dieng adalah dataran tinggi di Jawa Tengah, yang masuk wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo. Letaknya berada di sebelah barat kompleks Gunung Sindoro danGunung Sumbing.
Dieng adalah wilayah vulkanik aktif dan dapat dikatakan merupakan gunung api raksasa. Kawah-kawah kepundan banyak dijumpai di sana. Ketinggian rata-rata adalah sekitar 2.000m di atas permukaan laut. Suhu di Dieng sejuk mendekati dingin, berkisar 15—20 °C di siang hari dan 10 °C di malam hari. Pada musim kemarau (Juli dan Agustus), suhu udara kadang-kadang dapat mencapai 0 °C di pagi hari dan memunculkan embun beku yang oleh penduduk setempat disebut bun upas ("embun racun") karena menyebabkan kerusakan pada tanaman pertanian.
Secara administrasi, Dieng mencakup Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara dan Dieng Wetan, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Hingga tahun 1990-an wilayah ini tidak terjangkau listrik dan merupakan salah satu wilayah paling terpencil di Jawa Tengah
Sumber : Wikipedia Bahasa Indonesia


Read more

The Charm of Borobudur Temple





Banyak teori yang berusaha menjelaskan nama candi ini. Salah satunya menyatakan bahwa nama ini kemungkinan berasal dari kata Sambharabhudhara, yaitu artinya "gunung" (bhudara) di mana di lereng-lerengnya terletak teras-teras. Selain itu terdapat beberapa etimologi rakyat lainnya. Misalkan kata borobudur berasal dari ucapan "para Buddha" yang karena pergeseran bunyi menjadi borobudur. Penjelasan lain ialah bahwa nama ini berasal dari dua kata "bara" dan "beduhur". Kata bara konon berasal dari kata vihara, sementara ada pula penjelasan lain di mana bara berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya kompleks candi atau biara dan beduhur artinya ialah "tinggi", atau mengingatkan dalam bahasa Bali yang berarti "di atas". Jadi maksudnya ialah sebuahbiara atau asrama yang berada di tanah tinggi.
Sejarawan J.G. de Casparis dalam disertasinya untuk mendapatkan gelar doktor pada 1950 berpendapat bahwa Borobudur adalah tempat pemujaan. Berdasarkan prasasti Karangtengah dan Kahulunan, Casparis memperkirakan pendiri Borobudur adalah rajaMataram dari wangsa Syailendra bernama Samaratungga, yang melakukan pembangunan sekitar tahun 824 M. Bangunan raksasa itu baru dapat diselesaikan pada masa putrinya, Ratu Pramudawardhani. Pembangunan Borobudur diperkirakan memakan waktu setengah abad. Dalam prasasti Karangtengah pula disebutkan mengenai penganugerahan tanah sima (tanah bebas pajak) oleh Çrī Kahulunan (Pramudawardhani) untuk memelihara Kamūlān yang disebut Bhūmisambhāra. [1] Istilah Kamūlān sendiri berasal dari kata mula yang berarti tempat asal muasal, bangunan suci untuk memuliakan leluhur, kemungkinan leluhur dari wangsa Sailendra. Casparis memperkirakan bahwa Bhūmi Sambhāra Bhudhāra dalam bahasa sansekerta yang berarti "Bukit himpunan kebajikan sepuluh tingkatan boddhisattwa", adalah nama asli Borobudur.[2]
Sumber : Wikipedia Bahasa Indonesia
Read more